Meningkatnya kebutuhan susu di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menjadi sorotan, terutama sejak bergulirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun menariknya, lonjakan permintaan tersebut belum diikuti kenaikan harga yang signifikan di pasaran.
Salah satu faktor utama yang menjaga stabilitas harga adalah masih besarnya ketergantungan pada pasokan impor. Saat ini, produksi susu dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 20 persen dari total kebutuhan nasional, sementara sisanya dipenuhi dari luar negeri. Kondisi ini membuat ketersediaan susu tetap terjaga, sehingga tekanan terhadap harga bisa diminimalkan.
Di sisi lain, implementasi program MBG juga dilakukan secara bertahap dan terukur. Pemerintah menyesuaikan distribusi susu dengan kapasitas produksi dalam negeri, sehingga peningkatan permintaan tidak terjadi secara mendadak. Tidak semua daerah menerima distribusi susu setiap hari, yang bertujuan menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan.
Meski begitu, tanda-tanda persaingan untuk mendapatkan susu segar mulai terasa, khususnya di sektor industri dan peternakan lokal. Hal ini menjadi sinyal bahwa produksi dalam negeri masih perlu ditingkatkan agar tidak terus bergantung pada impor.
Selama pasokan impor tetap lancar dan distribusi berjalan baik, harga susu diperkirakan akan tetap stabil dalam waktu dekat. Namun ke depan, penguatan produksi lokal menjadi kunci untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus melindungi pasar dari gejolak global.
source: Liputan06, SPPG PUSAT










